Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Dinamika Transportasi Umum dalam Perspektif Penghayat Ke-antropologi-an

Membicarakan polemik transportasi di Indonesia saat ini begitu panas layaknya berita ala Pilpres 2014 atau Pilkada DKI lalu (eh, apakabar Pilkada, berasa manusia gua yang jarang menatap layar kaca nih saya, haha). Khususnya sejak kehadiran transportasi berbasis online yang beberapa waktu ini kabarnya “mengusik” ke- adem-ayem-an transportasi konvensional alias transportasi umum.
Jaman dahulu, ketika saya masih SD (sekitar tahun 2000an, pokoknya yang saya ingat lagu Misteri Ilahi-nya Ari Lasso) pun sudah “kendel/berani” naik transportasi umum. Sebut transportasi umum itu adalah angkot a.k.a mikrolet. Hahaha. Si angkot biru di Malang.  Indikator berani pulang dan berangkat sendiri, berani menyeberang sendiri, men-cegat angkot biar berhenti. Ketika itu SD saya di perempatan dekat lapangan Rampal, sedangkan rumah saya di Sawojajar yang mana dilewati jalur angkot CKL dan MM. Berapa naik angkot dari rumah ke sekolah di jaman itu? Rp. 700,- tujuh ratus perak!! bensin masih berapa ya waktu itu…

Postingan Terbaru

Malas Membaca? Cara Membaca Buku Masih Begitu Begitu Saja? Simak Langkah-langkah di bawah agar Membaca Buku lebih Mudah dan Bergairah!

Baper Descendants of The Sun

Profil Program Mahasiswa Wirausaha : Sepatu handmade ramah lingkungan “Trois”

Bantengan, Pertunjukan Tradisional Unik dari Malang

Orem-Orem Tempe Kuliner Khas Malang

Stop Memikirkan Pendamping Wisuda!, Hias Pendamping Ijazahmu dengan Merapikan CV Sekarang Juga!

Antropologi ditengah Pasar

Ini Bukan Curhatan, Ini Hanyalah Kisah yang Ingin Diceritakan Ulang